Presiden Rusia, Vladimir Putin tampaknya mengakui kerugian besar yang diderita militer Kremlin akibat serangan balasan Ukraina di timur dan selatan.

Dalam pernyataannya baru-baru ini, Putin berjanji akan menstabilkan situasi di empat wilayah Ukraina yang dicaplok Rusia.

Rusia menderita kerugian yang signifikan di dua dari empat wilayah yang dicaplok sejak Jumat (30/9/2022).

Pasukan Ukraina berhasil membobol pertahanan pasukan Rusia serta merebut kembali sejumlah kota dan desa, di saat Putin meresmikan pencaplokan wilayah tersebut.

“Kami sedang bekerja dengan asumsi bahwa situasi di wilayah baru akan stabil,” kata Putin kepada para guru Rusia selama panggilan video yang disiarkan televisi, dilansir Guardian pada Kamis (6/10/2022).

Kemajuan pesat pasukan Ukraina di timur dan selatan, membuat militer Rusia harus mundur.

Pergerakan tentara Ukraina kian cepat dan gesit karena dilengkapi sistem artileri canggih dari Barat.

Kota-kota yang ditinggalkan pasukan Rusia dalam kondisi hancur, bahkan ditemukan kuburan massal hingga tempat penyiksaan.

Di kota Lyman, yang direbut kembali oleh pasukan Ukraina pada hari Minggu, lebih dari 50 kuburan telah ditemukan.

Komentar dari Presiden Putin yang merujuk pada situasi di Ukraina, muncul di tengah keluhan reporter perang Rusia serta blogger militer tentang parahnya kemunduran Rusia di medan perang.

Sejak akhir September lalu, pasukan Rusia melakukan penarikan besar-besaran dari wilayah Kharkiv, kota Lyman yang strategis di timur Ukraina direbut kembali, lalu pasukan Kyiv mengalami kemajuan di Kherson.

Skala kekalahan terbaru dingkapkan BBC Rusia, yang melaporkan sebuah unit intelijen militer elit Rusia mungkin telah kehilangan hingga tiga perempat dari tenaga pengintainya di Ukraina.

Pada Rabu (5/10/2022) kemarin, komando selatan Ukraina mengatakan telah memperluas wilayah kendalinya sejauh 6 hingga 12 mil di wilayah Kherson sementara Presiden Volodymyr Zelensky mengonfirmasi perebutan kembali serangkaian desa.

Wilayah yang direbut kembali berada di selatan kota Kryvyi Rih ke arah Nova Kakhovka serta barat di sepanjang tepi utara sungai Dnipro menuju Kherson.

Bantahan Kremlin

Juru bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov – Presiden Rusia, Vladimir Putin berjanji akan menstabilkan situasi di empat wilayah Ukraina yang dicaplok. (RT.COM)

Kremlin mengatakan tidak ada kontradiksi antara mundurnya pasukan Rusia di sejumlah wilayah Ukraina yang dicaplok dan sumpah Putin terkait pencaplokan empat wilayah tersebut.

Pada Rabu (5/10/2022), Putin resmi menandatangani undang-undang yang mengakui Republik Rakyat Donetsk (DPR), Republik Rakyat Luhansk (LNR), wilayah Kherson dan wilayah Zaporizhzhia jadi bagian  dari Rusia.

Pengesahan aneksasi sekira 18 persen wilayah Ukraina terjadi ketika pasukan Rusia berjuang menghentikan serangan balasan Ukraina di dalamnya, terutama di utara Kherson dan barat Luhansk.

Ditanya apakah ada kontradiksi antara retorika Putin dan fakta soal mundurnya pasukan di lapangan, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan:

“Tidak ada kontradiksi apapun. Mereka akan bersama Rusia selamanya dan mereka akan dikembalikan.”

Undang-undang yang diteken Putin tidak menyebutkan secara jelas mengenai perbatasan wilayah yang dicaplok.

“Wilayah tertentu masih akan dikembalikan dan kami akan terus berkonsultasi dengan penduduk yang menyatakan keinginan untuk tinggal bersama Rusia,” kata Peskov, dikutip dari Reuters.

Daerah yang dianeksasi tidak semuanya berada di bawah kendali pasukan Rusia dan pasukan Ukraina baru-baru ini mengusir mereka kembali.

Luhansk, Donetsk, Kherson dan Zaporizhzhia, 4 wilayah yang mengadakan referendum  Presiden Rusia, Vladimir Putin berjanji akan menstabilkan situasi di empat wilayah Ukraina yang dicaplok. (Graeme Bruce/CBC News)

Bersama dengan Krimea, yang dianeksasi Rusia pada tahun 2014, total lebih dari 22 persen wilayah Ukraina telah diklaim Putin.

Kendati demikian, batas pasti dari empat wilayah yang dicaploknya baru-baru ini masih belum diklarifikasi.

Di sisi lain, serangkaian kekalahan Rusia di medan perang Ukraina telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan elit Kremlin.

Kemunduran pasukan membuat dua sekutu Putin secara terbuka memarahi petinggi militer tentang kegagalan tersebut.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Sumber Artikel.