Tim Gabungan Pencari Fakta dari Koalisi Masyarakat Sipil menduga Tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur merupakan kejahatan yang terstruktur.

Hal ini diungkapkan anggota Tim Pencari Fakta Koalisi Masyarakat Sipil dari LBH Surabaya, Daniel berdasarkan hasil investigasi selama sepekan.

“Berdasarkan hasil investigasi tim pencari fakta koalisi masyarakat sipil kami mendapat temuan bahwa peristiwa kekerasan yang terjadi di stadion Kanjuruhan merupakan dugaan kejahatan yang secara terstruktur yang tidak hanya melibatkan pelaku lapangan,’ kata Daniel dalam konferensi pers, Minggu (9/10).

Daniel menyebut investigasi dilakukan dengan memeriksa puluhan korban luka maupun keluarga korban dalam insiden yang menewaskan ratusan orang itu.

Meski begitu, Daniel mengungkapkan hal itu masih merupakan temua awal yang dilakukan pihaknya yang masih perlu pendalaman terkait temuan itu.

“Sekali lagi ini masih temuan awal, jadi masih kita update untuk menguatkan,” ucapnya.

Daniel juga mengungkapkan kondisi para korban juga hingga kini masih ada yang mengalami trauma mendalam akibat kejadian itu.

“Korban masih mengalami trauma, gegar otak, luka memar akibat kekerasan yang terjadi,” tuturnya.

Kepala Divisi Hukum Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andi Muhammad Rezaldi menyebut ada sekitar 12 kejanggalan
dalam tragedi itu.

Dari total kejanggalan, satu di antaranya adalah tim menemukan soal mobilisasi aparat pada saat pertengahan babak kedua pertandingan tersebut.

“Kami menemukan bahwa pengerahan aparat keamanan atau mobilisasi berkaitan dengan aparat keamanan yang membawa gas air mata itu dilakukan pada tahap
pertengahan babak kedua,” kata Andi.

Padahal dari hasil investigasi, kata Andi, belum terlihat adanya indikasi gangguan keamanan di lokasi.

Terlebih, dalam laga yang mempertemukan Arema FC vs Persebaya, suporter yang datang hanyalah Aremania.

“Padahal, dalam konteks atau situasi saat itu tidak ada ancaman, atau potensi gangguan keamanan. Jadi ini kami melihat ada suatu hal yang ganjil,” ucapnya.

Selain itu, tim juga menyoroti soal penembakan gas air mata yang dilakukan aparat kepolisian ke tribun penonton.

Andi mengutip Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 bahwa dalam hal penggunaan kekuatan, ada tahap-tahap awal yang harus dilakukan
aparat sebelum tiba pada keputusan untuk menembakkan gas air mata.

“Dalam Perkap penggunaan kekuatan harus ada tahap-tahap awal terlebih dahulu yang harus dilalui, dalam konteks kasus ini, tahapan-tahapan tersebut tidak dilalui oleh aparat kepolisian,” ucapnya.

Hal itu yang membuat para suporter panik hingga berdesakan untuk keluar dari stadion tersebut.

“Teman-teman harus pahami bahwa efek dari gas air mata itu berdampak secara buruk dan fatal terhadap kesehatan manusia, tidak hanya berdampak pada jarakpandangan, tapi juga berdampak terhdap gangguan pernapasan seseorang,”  tuturnya. (Tribun Network/abd/wly)

Sumber Artikel.