Ancaman resesi ekonomi pada tahun depan, dapat mengganggu pasokan pangan di dunia termasuk Indonesia.

Menyikapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengajak masyarakat untuk menanam cabai dan sayur-mayur, maupun tanaman pangan lainnya di pekarangan rumah.

Hal ini sebagai upaya menghadapi peningkatan risiko resesi global.

“Kami anjurkan untuk orang-orang menanam cabai sendiri, sayur sendiri di rumah,” ujar Luhut yang dikutip dari Kompas.com, Kamis (13/10/2022).

Menurutnya, tensi geopolitik antara Rusia dan Ukraina berdampak terhadap ketahanan pangan dan energi di seluruh dunia.

Sebab kedua negara itu merupakan pemasok komoditas energi dan pangan terbesar di dunia.

Oleh karena itu, Luhut berharap semua masyarakat Indonesia bisa menghadapi kondisi ketidakpastian global secara bersama-sama, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Menanam sendiri beberapa kebutuhan pangan dinilai perlu dilakukan sebagai antisipasi agar Indonesia memiliki ketahanan pangan yang kuat, yang dimulai dari kelompok terkecil yakni keluarga.

“Istilah tentara itu perang rakyat semesta. Kita menghadapi ini, semua harus satu padu, supaya kita jangan sampai kekurangan pangan,” katanya.

Meski demikian, Luhut meyakini, kondisi perekonomian Indonesia cukup baik.

Menurutnya, perekonomian RI termasuk kuat dibandingkan negara lainnya, sebab terus menunjukkan pemulihan usai tertekan akibat pandemi, meski di tengah ketidakpastian global saat ini.

Kinerja ekonomi yang positif itu setidaknya tercermin dari laju pertumbuhan ekonomi yang terjaga di kisaran 5 persen.

Pada kuartal I-2022 pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,01 persen (year on year/yoy), berlanjut di kuartal II-2022 dengan tumbuh 5,44 persen (yoy).

Pemerintah bahkan meyakini pada kuartal III-2022 pertumbuhan ekonomi akan tetap positif di kisaran 5,2 persen, meski memang lebih rendah dari kuartal sebelumnya.

Oleh karena itu, Luhut menilai, dirinya tak melihat Indonesia memiliki potensi resesi, meski demikian kondisi ketidakpastian global tetap perlu diantisipasi.

“Saya kira sampai sekarang kita tidak melihat tanda-tanda ke sana (resesi), tapi kita pun tidak boleh jumawa terhadap itu,” pungkasnya. (Yohana Artha Uly/Kompas)

Sumber Artikel.